Skip to main content

Proses Persalinan 48 Jam

Alhamdulillah delapan tahun usiamu, Nak.
Jadilah anak yang sholeh dan selalu menjalankan perintah-Nya.
Menunaikan sunah Nabi Muhammad, SAW.
Aamin.

 

Lorong bercahaya keabuan itu tidak mudah ditemukan pintu keluarnya. Meraba dalam temaram cahaya yang tidak gelap dan tidak terang. Kaki ini begitu berat sekali untuk melangkah. Berkali-kali, bayangan orang-orang tercinta berkelebat, muncul dan memanggil-manggil namaku. 

Di mana aku? apakah aku ingin keluar dari lorong ini? apakah aku harus berada di luar lorong tersebut? tidak...tangan yang halus mengelus-elus pergelangan tanganku. Suara-suara yang tidak kukenal berlomba-lomba memanggil namaku. Apakah aku dibutuhkan di sana? perlahan, perlahan aku menyingkap cahaya tak terang dan juga tak gelap. Mataku berkedip, mulutku terbuka entah mengeluarkan kata apa, yang aku tahu, semua orang mengucap Alhamdulillah dan menciumi kening, menciumi pipiku dan kulihat mata mereka basah.

Kalimat pertama yang kutanyakan adalah, "Di mana aku?". Perlahan seorang lelaki yang berbadan besar, bermata tajam menjelaskan bahwa aku telah berada di ruang perawatan. 1 jam lamanya aku tertidur setelah tindakan operasi sesar. Total 2 jam aku berjuang untuk bersalin. Waktu yang begitu lama aku tertidur, waktu yang begitu lama untuk bersalin.

Hari Minggu adalah hari ke-3 berada dalam bantuan medis. Hari pertama aku dibantu oleh seorang bidan. Aku diperlakukan dengan baik, perlengkapan bersalin dan baju bayiku sudah ditata di ruang bersalin dengan rapi. Sampai akhirnya, saat batas waktu melahirkan yang diestimasikan oleh bidan tak kunjung tiba. 2 x 24 jam bukaan berhenti di angka 3. Suamiku langsung meminta aku dibawa ke rumah sakit. Bidanpun mengiyakan, khawatir kondisiku drop dan lemas.

Rumah sakit menerimaku dengan beraneka keributan, karena ada jadwal bersalin yang begitu padat di ruang bersalin. Aku menempati tempat tidur, tepat di dekat pintu. Jadi, ada banyak orang lalu lalang, ada banyak kegiatan yang terjadi, aku tahu. Tapi sampai malam, aku tidak diberi tindakan apa-apa. Induksi melalui rektal, tidak bereaksi dengan bagus. Hanya awal-awal menit saja aku merasa mulas.

Aku dipindahkan ke kamar rawat yang sudah dipesan. Tiduran terus terasa tidak menyenangkan, jadi aku jalan-jalan bolak-balik melihat-lihat kondisi rumah sakit bersalin tersebut. Hening, kadang sibuk dengan orang yang lalu lalang. Suamiku terlihat kelelahan, tertidur di sofa ruang perawatan. Tengah malam, aku diminta masuk ruang bersalin lagi. Satu obar melalui rektal lagi, bereaksi sebentar setelahnya tidak menunjukan tanda pertambahnya pembukaan.

Pagi hari mulai ribut karena dokter memberikan saran untuk dilakukan tindakan. Sebelumnya aku meminta kesempatan supaya bisa melahirkan secara normal. Satu selang infus untuk memasukan induksi meremas-remas perutku. Sakit, sakit sekali. Mules, mules sekali. Itu hanya beberapa menit saja, sama seperti obat yang dimasukkan melalui rektal. 

Tanda tangan keluarga diwakili suamiku, tindakan operasi sesar. Aku bingung, aku takut, aku tidak mempersiapkan melahirkan dengan cara operasi. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku hanya menjadi orang yang bingung. Suamiku hanya memberikan aku satu kalimat. "Untuk keselamatan ibu dan bayi, Bismillah, berdoa terus ya".

Aku tidak menangis, hanya merajuk berharap ada keluarga yang diperbolehkan menemaniku di ruang operasi. Ternyata tidak boleh.

Aku tidak menangis, hanya manja ingin ditemani sebelum aku masuk ke dalam kamar operasi.

Aku tidak menangis, hanya memohon untuk mengulur waktu operasi, tapi semua tahapan operasi sudah dilakukan dan aku harus menerimanya.

Aku tidak menangis, hanya takut melihat suamiku menitipkan aku kepada petugas anastesi. Aku tidak tahu mereka berbicara tentang apa, yang aku dengar suamiku diminta untuk selalu berdoa.

Aku tidak menangis, hanya menggigil di kamar operasi dengan orang-orang yang baru aku lihat, baru aku temui, baru aku dengar suaranya.

Aku tidak menangis sampai seseorang memperlihatkan sesuatu di mukaku. Ternyata itu bayiku, yang pertama ditunjukan adalah rambut hitamnya, iya itu kepala. Lalu mataku menelusur ke bawah, jemari kakinya, jemari tangannya dan tangisannya membuat orang tersebut membawa bayi itu menjauh dari aku. 

Aku tidak menangis sampai suamiku memberikan sebuah kamera dan memperlihatkan foto-foto bayiku yang menangis saat dimandikan, saat diberi baju dan foto-foto tenangnya tertidur dengan bantal pink. Bantal pink? bayiku laki-laki, kan?



Selamat Ulang Tahun Faiz


Sayangku, selamat ulang tahun ya, Nak. Itu adalah proses kelahiranmu. Proses dari ummi enggak ngerti apa-apa sampai ummi ngerti bahwa melahirkan itu butuh banyak hal. Butuh banyak tenaga dan butuh mengerti bahwa semua orang menyayangimu, menyayangi ummi dan selalu berharap ummi selalu berada di dekat mereka, di dekatmu.

Tertidur lama setelah diberikan anastesi, menggambarkan apa yang telah ummi lalui dan akan ummi hadapi. Selamat untuk ummi sendiri, telah berjuang atas nama cinta berani masuk ke kamar operasi supaya kamu lahir ke dunia ini. 

#ODOPOKT10

Comments

  1. Wah, mas Faiz, met milad yaaa, barokallah, semoga jadi anak soleh.. Aamiin.

    ReplyDelete
  2. Met hari lahir ya buat mas Faiz😊 Seumur anakku yang nomer 4 lahir bulan November.

    ReplyDelete
  3. Perjuangan seorang ibu memang begitu berat. Barakallah untuk mbak Astin dan keluarga ^^

    ReplyDelete
  4. Salut dengan bidan yg sebelumnya menolong kelahiran, dianya sabar menunggu hingga 2 X 24 jam. Ditempatku bidan cuma mau menunggu kurang lebih 6 jam, kalau susah langsung dirujuk ke rumah sakit untuk operasi

    ReplyDelete
  5. Masyaallah, perjuangannya sebegitu besar ya, seorang ibu itu 💪

    ReplyDelete
  6. Masyaallah, perjuangannya sebegitu besar ya, seorang ibu itu 💪

    ReplyDelete
  7. Selamat ultah Faiz moga tumbuh jd anak sholeh.
    Jd keinget saat hamil anak pertama sbrnya saya harusnya operasi. Tapiu gak tau knp sblm jadwal operasi tiba2 ada pembukaan. Sampai akhirnya dia lahir via vagina. Mungkin Tuhan tau saya galau bener takut dioperasi hehe.
    Yg penting selamat ya mbak ibu dan anak :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Transpulmin Balsam untuk Batuk Bayi Fira

Haaai, apa kabar? hari ke -6 di bulan Ramadhan pada bulan Juni 2015. Cuaca masih kurang bersahabat dengan mi, bi , kakak Faiz dan tentu saja bayi Fira. Cuaca panas membuat tanah menjadi kering dan tertiup angin sehingga udara menjadi sangat kotor. Mi sering melihat lo, angin menbawa debu yang tidak tipis, namun tebal, bagaimana jika debu tebal tersebut masuk ke mulut, hidung dan mata kita?
Batuk Mudah Menular, lho. Sudah dipastikan, jika masuk ke dalam mulut, mulut akan terasa gatal, batuk berdahak yang disebabkan oleh debu-debu yang berhamburan masuk ke dalam mulut tadi. Jika masuk ke dalam hidung, akan terjadi bersin yang diakibatkan debu yang menempel pada bulu-bulu hidung, terjadilah influenza. Jika debu masuk ke dalam mata, aduuh itu yang paling menyakitkan karena akan membuat iritasi berupa kemerahan pada mata.
Alhamdulillah, bayi Fira selalu di rumah, namun apakah itu menjamin bayi Fira tidak tertulat batuk? mi, abi dan kakak Faiz selalu beraktivitas di luar rumah. Menghadapi d…

Persiapan Tes Masuk Sekolah Dasar

Dua tahun lalu, ummi mencari artikel mengenai seluk beluk tes masuk sekolah. Dua tahun lalu, Faiz akan lulus TK B, di mana pihak TK memberikan penjelasan, bahwa kemampuan akademis Faiz cukup untuk masuk SD. Hunting sekolah dasar di sekitar tempat tinggal pun di mulai. Artikel di google yang ummi temukan, juga cukup menjawab pertanyaan klise, soal tesnya bagaimana?
Sekolah pertama, pihak sekolah merasa ragu, karena usia Faiz waktu itu baru 5,8 bulan. Pihak sekolah meminta Faiz untuk mengikuti tes masuk pada hari yang ditentukan.  Dua hari sebelum tes, ummi menyiapkan soal-soal membaca, menghitung dan menulis. Soal-soal tersebut, ummi ambil dari artikel di google dan sebagian dari buku-buku mewarnai, di mana ada latihan menulis dan berhitung. Faiz lulus dan hari pertama masuk sekolah, Faiz sudah menangis mencari ummi. Hari kedua, hari ketiga, seminggu, dua minggu Faiz masih bersemangat ke sekolah, namun meminta agar ummi, masih menunggu di depan pintu kelas. Mencoba masuk ke sekolah ya…

5 Sekolah Dasar Pilihan di Sekitar Cipondoh

Memilih sekolah untuk Faiz, pertimbangannya adalah, sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumah dan memilih sekolah dengan tetap mempertimbangkan kualitasnya. Tahun 2015 kemarin, mi dan bi sudah memilihkan dua sekolah untuk Faiz dan akhirnya hanya menjadi pilihan saja. Sebetulnya, nama Faiz sudah tercatat di dua sekolah tersebut. Di sekolah pertama, Faiz bersekolah dua bulan, di sekolah ke dua, hanya satu bulan saja.
Ada Faktor yang mengakibatkan Faiz urung bersekolah dan menjadi keputusan berat untuk mi dan bi menarik Faiz dari sekolah. Tahun 2016 ini, Faiz menyatakan sudah siap dan tidak akan mengulangi hal yang mengakibatkan mi dan bi menarik Faiz dari sekolah.  
Tahun ini, ada satu sekolah yang diinginkan Faiz, namun sayang sekali sekolah tersebut sudah menutup pendaftarannya. Di bulan Januari ini malah sudah menerima angusuran pertama. Tidaki bisa dibuka, waiting list begitu? katanya tidak bisa, sudah tutup. Okelah kalau begitu.
Berikut, mi rangkum 5 sekolah dasar pilihan di seki…