Skip to main content

Pergi Ke Dokter itu Menyenangkan, Ini Tipsnya

Haaai, apa kabar teman-teman Faiz dan Fira?

Hari ini hujan deras di tempat Faiz dan Fira. Alhamdulillah kakak Faiz sudah pulang ke rumah dari sekolah. Jadi tidak kehujanan, tidak kebasahan dan tidak harus kedinginan. Kakak Faiz dan Fira sedang flu. Ingusnya keluar dari lubang hidung. Duh, repotnya kalau mau tiidur, loh. Teman-teman Faiz dan Fira, pasti juga pernah mengalami hal yang sama, kan. Gimana enggak asyiknya menderita flu, apalagi di musim hujan yang dingin ini.

Ummi dan Abi, akan membawa ke dokter, apabila flunya tidak biasa. Tidak biasa di sini adalah, ingusnya berwarna dan berbau. Hiii, ingus yang normal adalah ingus yang bening atau berwarna putih. Nah, kalau ingus yang berbau dan berwarna itu, terkadang berwarna hijau dan baunya seperti bau mulut saat bangun tidur. Enggak enak sekali kan, baunya. Nah, biasanya, kalau ingusnya sudah berbau dan berwarna, itu akan disertai dengan tubuh yang demam.

Tubuh yang demam harus diobservasi nich. Apabila sudah diberikan penurun panas selama 3 hari, tapi demamnya belum turun, Ummi dan Abi akan segera membawa kakak Faiz dan Fira ke dokter. Kenapa? supaya diberikan penanganan lebih lanjut. Biasanya, demam itu menunjukkan ada peradangan atau infeksi di dalam tubuh. Harus segera diberikan obat selain penurun panas. 

Pergi ke dokter itu menyenangkan loh, teman-teman. Apakah ada teman-teman yang takut pergi ke dokter? hayo ngacung? ada yang nangis saat berada di ruangan dokter? Ummi mau cerita nich, tips supaya bayi/balita/anak-anak tidak takut ke dokter. Siap ya, mendengarkan tips yang diberikan oleh ummi.


Mengukur Berat Badan Sebelum Bertemu Dokter

Anak Takut Pergi ke Dokter


Pernah dengar gak sich, seorang ibu yang kewalahan menangani anaknya yang rewel, dengan menakut-nakuti akan ada dokter yang mau menyuntik kalau enggak nurut?. Pasti pernah dech. Sering kok dijumpai orang tua atau pengasuh yang mengatakan hal tersebut. Tujuannya apa sich? kenapa kok dokter dibawa-bawa? giliran anak harus pergi ke dokter, anaknya nangis jejeritan dan enggak mau masuk ke ruang dokter, orang tuanya ganti menakut-nakuti akan datang polisi bawa pistol kalau enggak nurut. Ya Allah, mudah-mudahan ummi juga segera memperbaiki diri ya, Nak.

Bisa jadi nich, anak yang takut apabila diajak ke dokter, karena kata-kata yang digunakan oleh orang tuanya. Sebaiknya, pergunakanlah kata-kata yang positif untuk merajuk apabila si anak sedang rewel dan tidak nurut. Repot kan, saat anak harus ke dokter, eh, si anaknya nangis jejeritan dan enggak mau masuk ke ruang praktek dokter. Padahal si anak membutuhkan pertolongan dari dokter.

Tips Mengajak Anak ke Dokter


Okay, berikut tips yang ummi gunakan kepada Faiz dan Fira saat mereka harus ke dokter.
  1. Tidak pernah menggunakan kata dokter, jarum suntik untuk menakut-nakuti si anak
  2. Memberikan pemahaman sebuah profesi kedokteran, yang bertugas untuk membantu menyembuhkan sakit pada manusia. Kakak Faiz sudah sembuh loh? itu karena pertolongan Allah melalui tangan seorang dokter. Coba kalau enggak dibawa ke dokter cepat-cepat? mungkin sembuhnya akan lama. Sekarang kakak Faiz sudah sembuh dan bisa makan apa saja, bisa main sepuasnya? gimana? dokter baik kan?
  3. Menciptakan raut muka yang bahagia, ceria dan tenang saat menunggu giliran masuk ke dalam ruang praktek dokter. Jangan biarkan anak bete dengan mengeluh, kok dokternya lama sekali, kok begini. Ajak anak untuk bergembira, kalau anak yang sakit tertidur atau lemas, usap-usap kening, punggung atau yang lainnya untuk membuat anak lebih tenang.
  4. Saat masuk ke dalam ruang praktek dokter, usahakan untuk mengakrabkan diri dengan dokter. Yaah, walaupun ada banyak sekali tipe dokter. Ada yang jutek, ada yang ramah, ada yang diam, ada yang ceria. Sapalah dokter paling tidak, ajak si anak untuk berkenalan dengan dokter supaya anak merasakan kenyamanan bersama seorang dokter.
  5. Nah, ini adalah pengalaman terbaru ummi bersama Fira. Fira baru saja diberikan vaksin MR oleh dokter anak. Awalnya ngobrol santai, diperiksa dan kemudian disuntik. Fira hanya menyeringai, meringis dan menahan tangis. Ummi tahu, Fira bakalan protes dan nangis. Hanya ucapan sakit ummi yang keluar dari mulutnya. Ummi hanya bilang, itu untuk kekebalan tubuh Fira, sakit memang, tapi bakal hilang kok sakitnya. Dan, anaknya sama sekali enggak nangis, Alhamdulillah.
  6. Ajak anak untuk berpamitan kepada dokter. Say dadah dan bilang terima kasih, itu yang diucapkan Fira kepada dokternya kemarin. Geli sich, ngelihat ekspresi nahan sakit, sambil bilang dadaaa...terima kasih. Tujuannya apa? tujuannya untuk menuntaskan rasa tidak nyaman si anak yang mungkin bakal dibawa sampai ke rumah. Nah, kalau anak kesel juga ke dokter, tugas orang tua yang memberikan pemahaman. 
  7. Dalam perjalanan pulang, selalu ceritakan hal positif tentang dokter. Kalaupun anak bilang disuntik sakit, bilang saja disuntik memang sakit. Minum obat memang pahit dan tidak enak.Tidak perlu membohongi anak dengan mengatakan, disuntik enak kok, makan obat enak kok. Katakan pada anak-anak, disuntik memang sakit, tapi sakitnya tidak lama. Makan obat memang pahit, kadang ada yang enak karena diberi pemanis dari vitamin. Setelah disuntik dan minum obat, pasti akan lebih baik. 
Teori terkadang lebih mudah dibandingkan melalukannya ya. Sebetulnya tidak loh. Ummi juga merasakan hal yang sama, saat Fira masih berusia 2 tahunan. Melihat dokter, dia nangis, minum obat dimuntahin dan trauma enggak mau minum. Wajar kan menghadapi hal tersebut, enggak mulus-mulus amat kok pengalaman menjadi seorang ibu.

Learning by doing, Allah bisa karena biasa. Membiasakan untuk terus menerus mengatakan kepada Fira, bahwa bertemu dokter itu menyenangkan, bahwa minum obat itu memang pahit, tapi cuma sebentar. Alhamdulillah, saat bertemu dokter, Fira sudah tidak nangis. Diajak ke bed periksa, jalan sendiri, naik sendiri, buka sandal sendiri, terlentang sendiri, buka mulut, buka mata. Alhamdulillah.

So, tidak perlu menakut-nakuti anak supaya melakukan apa yang diinginkan orang tua ya, apalagi dengan membawa nama dokter dan jarum suntik. Terima kasih Faiz dan Fira, dari kalian, ummi belajar tentang apapun, termasuk belajar bersabar saat kalian sedang diberikan kesempatan untuk sakit.  

#ODOPOKT2

#Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia"

Comments

  1. Saya gak pernah menakut-nakuti anak kalau ke dokter. Dan kebetulan juga punya dokter anak yang menangani mereka sejak bayi juga ramah. Jadi anak-anak gak takut

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Transpulmin Balsam untuk Batuk Bayi Fira

Haaai, apa kabar? hari ke -6 di bulan Ramadhan pada bulan Juni 2015. Cuaca masih kurang bersahabat dengan mi, bi , kakak Faiz dan tentu saja bayi Fira. Cuaca panas membuat tanah menjadi kering dan tertiup angin sehingga udara menjadi sangat kotor. Mi sering melihat lo, angin menbawa debu yang tidak tipis, namun tebal, bagaimana jika debu tebal tersebut masuk ke mulut, hidung dan mata kita?
Batuk Mudah Menular, lho. Sudah dipastikan, jika masuk ke dalam mulut, mulut akan terasa gatal, batuk berdahak yang disebabkan oleh debu-debu yang berhamburan masuk ke dalam mulut tadi. Jika masuk ke dalam hidung, akan terjadi bersin yang diakibatkan debu yang menempel pada bulu-bulu hidung, terjadilah influenza. Jika debu masuk ke dalam mata, aduuh itu yang paling menyakitkan karena akan membuat iritasi berupa kemerahan pada mata.
Alhamdulillah, bayi Fira selalu di rumah, namun apakah itu menjamin bayi Fira tidak tertulat batuk? mi, abi dan kakak Faiz selalu beraktivitas di luar rumah. Menghadapi d…

Persiapan Tes Masuk Sekolah Dasar

Dua tahun lalu, ummi mencari artikel mengenai seluk beluk tes masuk sekolah. Dua tahun lalu, Faiz akan lulus TK B, di mana pihak TK memberikan penjelasan, bahwa kemampuan akademis Faiz cukup untuk masuk SD. Hunting sekolah dasar di sekitar tempat tinggal pun di mulai. Artikel di google yang ummi temukan, juga cukup menjawab pertanyaan klise, soal tesnya bagaimana?
Sekolah pertama, pihak sekolah merasa ragu, karena usia Faiz waktu itu baru 5,8 bulan. Pihak sekolah meminta Faiz untuk mengikuti tes masuk pada hari yang ditentukan.  Dua hari sebelum tes, ummi menyiapkan soal-soal membaca, menghitung dan menulis. Soal-soal tersebut, ummi ambil dari artikel di google dan sebagian dari buku-buku mewarnai, di mana ada latihan menulis dan berhitung. Faiz lulus dan hari pertama masuk sekolah, Faiz sudah menangis mencari ummi. Hari kedua, hari ketiga, seminggu, dua minggu Faiz masih bersemangat ke sekolah, namun meminta agar ummi, masih menunggu di depan pintu kelas. Mencoba masuk ke sekolah ya…

Serunya Faiz Ngedate Bareng Legendaddy at Happy Beach

Happy Date with Legendaddy at Happy Beach, sebuah acara yang digelar oleh LACTOGEN 3 ActivGro dengan tema happy beach-taman bermain bertemakan pantai terluas di pusat perbelanjaan yang tercatat dalam Rekor MURI. Acara yang diselenggarakan di Tribeca Central Park Mall, Jakarta Barat, pada tanggal 6-7 Juni 2015. Acara ini dimeriahkan dengan rangkaian aktivitas bermain dan belajar bagi pasangan ayah dan anak seperti happy sand, happy creation, happy stacking, happy zoo, happy story dan masih banyak lagi. Puncak acara berlangsung pada hari Minggu, 7 Juni 2015 dengan menghadirkan Rini Hildayani, M.Si dan Choky Sitohang sebagai pembicara dalam diskusi bertemakan "Peran Ayah dalam Mengotimalkan Keceriaan Anak"
Serunya Persiapan Sebelum Keberangkatan
Mi memilih hari Minggu, tanggal 7 Juni 2015 untuk hadir pada Happy Date with Legendaddy at Happy beach. Seru sekali persiapannya, karena mi harus menyiapkan baju untuk ganti untuk Faiz dan Abi, menyiapkan makanan untuk baby Fira. Mi tida…