Friday, 30 October 2015

Keluarga Bahagia Bersama Leggendaddy

Ini cerita dari keluarga kami, keluarga yang memiliki sebuah tujuan menuju keluarga bahagia. Keluarga yang terdiri dari Abi, Ummi, Faiz dan Fira. Sebuah keluarga yang awalnya terbangun dari masing-masing individu yang memiliki perbedaan pandangan mengenai beberapa hal, termasuk pemisahan peran antara ayah dan ibu dalam keluarga. Memang bukan sebuah perbedaan yang mencolok, karena abi masih menyempatkan kok untuk memandikan Faiz dan Fira, menyuapi mereka berdua dan mengajak bermain kedua buah hati kami.

Keluarga bahagia menurut mi bukan sebuah keluarga yang tercukupi hanya satu faktor. Namun, mi menginginkan keluarga bahagia pada semua faktor. Keluarga yang bahagia karena memiliki harta paling menakjubkan, salah satunya adalah seorang leggendaddy. Alhamdulillah masa kecil mi dan bi tidak memiliki pengalaman bersama sosok ayah yang galak, sosok ayah yang diktator, sosok ayah yang maunya ini dan harus satu komando.

Mi dan Abi memiliki keinginan untuk menuju keluarga bahagia yang berlandaskan agama. Semua keputusan dan sikap yang diambil, semuanya ada dalam agama. termasuk dalam mengasuh anak-anak. Perlahan-lahan mi dan Abi berproses untuk membangun keluarga yang bahagia. Amiin.

Pada jaman dahulu, ada sebuah pandangan, bahwa peran sosok ayah adalah sebagai tulang punggung dan pemimpin keluarga, sementara peran ibu adalah mengasuh anak di dapat dari pengalaman masa kecil Abi. Sosok ayah yang bertugas mencari uang dan sosok ibu yang mengasuh anak dan mengurusi segala pekerjaan rumah tangga. Mungkin, masih ada pandangan sosok ayah yang seperti itu, saat ini. Semoga pandangan dan pemikirannya cepat terbuka ya, karena anak-anak sangat butuh sosok seorang ayah yang dekat dengan mereka. Anak yang tidak canggung kepada sang ayah ketika ingin menceritakan sesuatu, anak yang ingin mengajak ayahnya melakukan hobby yang sama.

Menjadi Keluarga yang Terbuka untuk Menjadi Keluarga Bahagia


Mi dan Abi berusaha untuk membenahi diri masing-masing, membenahi rumah tangga kami, membenahi cara kami mengasuh anak-anak. Salah satunya tentu dengan sikap keterbukaan. Mi inginnya seperti ini. Abi menginginkan seperti ini, bagaimana jika dipadukan? bagaimana jika diimplementasikan kepada anak-anak? apakah bisa untuk masing-masing anak? cara yang kami terapkan? semuanya kami lakukan secara terbuka.

Bisa jadi, ummilah yang paling banyak waktunya mengasuh anak-anak karena berada di rumah. Namun semuanya, sebisa mungkin mi akan sampaikan kepada Abi. Tujuannya apa? agar Abi juga mengikuti perkembangan anak-anak. Agar Abi mampu masuk ke dalam anak-anak dengan perkembangan yang mi sampaikan. Namun kadang kala, ada juga porsi Abi lebih banyak bersama anak-anak.  

Melihat sikap Abi yang seratus persen mi yakin, mampu menjadi super leggendady. Sosok yang sabar, sosok yang baik kepada orang lain, sosok yang mau memberikah contoh kepada anak-anaknya, merangkul anak-anaknya untuk mengetahui apa yang Abi lakukan. Abi sangat senang jika Faiz mengganggunya sedang membersihkan mobil, Abi akan menjawab, ini kenapa harus disemprot? ini kenapa harus diambil? ini kenapa? dan Abi tidak sewot ketika Fira mengebrak gebrak laptopnya. Abi akan memberikan pengertian kepada Fira, laptop akan rusak jika seperti itu. Abi mengajari jemari Fira untuk melakukan gerakan halus pada keyboard, Yaaah..namanya baby, gebraaak teruss.

Seorang ART rumah tangga juga pernah berkata kepada mi, Abinya Faiz, jarang ya..marah-marahin Faiz kalau Faiz bandel. Ketika mi sampaikan kepada Abi, jawabannya adalah : Abi menginginkan anak-anaknya dekat dengan dia, lalu jangan memberikan kesan menakut-nakuti kepada anak, buat apa marah-marah? jika keterlaluan bandelnya ajak untuk menyibukan diri bermain yang disukainya.  Kesentiiiil, jangan marah-marah, jangan menakut-nakuti, jangan lagi-lagi berasa sok orangtua ya.

Pengalaman dalam Mengasuh Anak-Anak


Duuuh, kok mi merasakan sendiri? enggak ada siapa-siapa yang mau membantu mi bergantian menjaga Faiz? capek rasanya seperti ini terus? harusnya kan Abi bisa, malam-malam menjaga Faiz, atau pagi-pagi sebelum berangkat bekerja, Abilah yang memandikan atau menyuapi Faiz. Ada ya rasa seperti itu? hayo ngaku? apa cuma mi saja yang merasa kek gitu? tapi kan itu dulu...sekarang sudah dihilangkan, kok.

Perasan itu ketika Faiz masih bayi. Pekerjaan Abi yang mengharuskan untuk berangkat pagi hingga larut malam, dari hari Senin hingga Sabtu. Tidak ada waktu yang longgar ketika hari kerja, memegang Faiz untuk dimandikan atau disuapi. Mi sempat mengeluarkan protes, sempat merasa tidak bahagia, sempat merasakan tekanan. Emang yang memiliki anak, hanya ummi?

Di balik semua itu, Abi menyimpan juga keinginan untuk lebih banyak bersama keluarga, bersama istri dan anaknya pastinya. Saat itu, Abi hanya memiliki waktu di hari Minggu, bermain bersama Faiz dan mengajaknya berjalan-jalan keliling komplek atau bersepeda motor. Masih belum berani untuk memandikannya, apalagi untuk menyuapinya. Menurut mi, itu masih kurang, karena porsinya lebih banyak di ummi. Bersyukurkah ummi dengan keadaan tersebut, harusnya bersyukur ya.

Setelah lahir anak kedua, mi dan Abi berupaya untuk semakin arif dalam pengasuhan anak-anak. Membagi peran pun itu tidak menyelesaikan sesuatu, yang ada malah nantinya akan tunjuk menunjuk, kan tugasmu, kan tugasku nanti. Jadi, mi dan Abi bersama-sama menggunakan sistem saling mendukung dan saling mengerti dengan komunikasi yang terbuka dan baik.

Alhamdulillah, Saat Fira lahir, Abi sudah berpindah pekerjaan. Sebuah pekerjaan yang lebih banyak waktunya bersama keluarga. Pernah sewaktu Fira masih bayi, Abilah yang menjaga dari pagi hingga malam, ketika pengasuh tidak datang (waktu itu mi masih bekerja). Abi enggak protes, Abi juga enggak meminta mi untuk ijin atau cuti. Semua ada kadar keperluan dan kepentingannya, diatur lah mana prioritas utamanya.  Tidak ada sebuah hal yang membahagiakan kecuali, Abi merelakan waktunya untuk menjaga anak-anak ketika mi bekerja di luar rumah, big thanks for you leggendaddy.

Mi sebagai ibu dari anak-anak, juga mengucapkan banyak terima kasih. Meskipun saat ini mi sudah tidak bekerja, Abi masih dengan rutinitas bersama anak-anak. Masih memandikan anak-anak, menyuapi Fira, bermain bersama atau sesekali mengajak Faiz untuk berenang, berdua saja. Hal ini memberikan kenyamanan kepada mi. Rasa nyaman karena anak-anak bisa bersama dengan sepuasnya bersama Abi. Rasa nyaman dalam hati mi, dan dalam aktivitas mi karena didudung dan diberikan keleluasaan oleh Abi.

Happy Date with Leggendaddy, Liburan Bersama Abi dan Anak-Anak


Waktu yang kami miliki saat ini, lebih banyak bersama anak-anak. Anak-anak merasa senang dan nyaman ketika diajak #jalanyuknak ke beberapa tempat. Kadang untuk mencari suasana yang berbeda, kami memutuskan untuk makan di luar. Atau sekedar jalan-jalan melihat-lihat perkotaan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Tanggal 3 Oktober, kami mendatangi sebuah acara bertema Happy Beach. Mengusung tema Happy Date with Leggendaddy. Sebuah acara untuk mendorong para ayah agar menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas bersama anak-anak dan membantu mengedukasi masyarakat untuk memberikan kepercayaan lebih kepada ayah dalam mengasuh anak.

Lokasi acaranya cukup jauh dari tempat tinggal kami, Kota Kasablanka. Namun Abi bersedia menemani mi dan anak-anak untuk mendatangi acara tersebut. Peran Abi yang menjadi pemimpin keluarga dan pencari nafkah, saat itu digantikan untuk bersama kami. Hari Sabtu biasanya, Abi masih bekerja menjaga pameran atau sekedar menerima konsumen di proyek. Namun, Sabtu kemarin menjadi hari luar bisa bagi si leggendaddy ini.

Bincang-Bincang Bersama Nara Sumber di Happy Date with Leggendaddy




Sebelum bermain di Happy Beach, kami semua mendengarkan bincang-bincang dari para nara sumber. Hadir dalam bincang-boncang tersebut, Ibu Rini Hildayani,M.Si yang menjelaskan, "Terdapat beberapa faktor yang dapat mendukung peran ayah dalam pengasuhan, diantaranya adalah dukungan dari lingkungan sekitar serta pengetahuan dan keterampilan ayah perihal pengasuhan anak".


Menurut mi, Abilah orang yang paling cekatan dan terampil ketika ada anak yang sakit. Abi memulai dengan seruan "Sini, di cek sama dokter", kemudian Abi memeriksa seluruh tubuh Faiz atau Fira yan sedang sakit. Meskipun Abi kadang tidak sabar untuk menjaga anak-anak ketika sakit, namun anak-anak suka ketika dicek seperti layaknya Abi adalah dokter. Mi ikut sebagai perawatnya. Yup, bagaimana tidak bahagia melihat pemandangan tersebut?

Choky Sitohang, salah satu nara sumber menceritakan masa kecilnya, "Cukup banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari pola pengasuhan orangtua saya dulu, termasuk ayah. Keluwesannya, keterampilannya, bersosialisasi serta sikapnya yang sangat menghargai orang lain tanpa disadari mempengaruhi cara saya bersosialisasi sehingga berhasil dalam karir. Nilai-nilai seperti itu yang secara konsisten saya coba terapkan kepada anak-anak di sela kesibukan saya bekerja."

Tepuk tangan untuk Abi, our Leggendaddy at home. Menurut mi, Faiz sangat menuruni sikap Abinya. Mulai dari sikap untuk tidak melawan terhadap teman-temannya yang iseng kepada Faiz. Faiz juga mulai mengerti apa pekerjaan Abinya. Faiz senang sekali meniru apa yang Abinya kerjakan. Jadi, inilah tugas dan tanggung jawab mi dan bi. Berusaha untuk selalu memberikan contoh yang terbaik. Contohnya saat ini Abi berada di bidang bisnis, Faiz mulai paham, Faiz harus bekerja untuk mendapatkan uang atau Faiz berhitung-hitung, jika mainannya dijual, dapat uang dech.

Catatan penting dari bincang-bincang kemarin adalah "Tidak ada pemisahan peran dalam mengasuh anak-anak". Jelas kan ya, tugas mengasuh anak, ada pada ke dua orangtua, Abi dan mi. Pandangan ideal, mengasuh anak adalah mutlak ibu, tidak sepenuhnya benar sekarang. Sebuah penelitian yang berjudul The Effect of Father Involvemen: An Update Reseach Summary of the Evidence memaparkan lebih lanjut mengenai dampak positif dari keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini memiliki kemampuan kognitif lebih baik ketika memasuki usia enam bulan hingga satu tahun, memiliki nilai IQ yang lebih tinggi ketika menginjak usia tiga tahun, serta berkembang menjadi anak dan individu yang mampu memecahkan permasalahan lebih baik.

Dalam keluarga mi, tidak ada pembagian yang kaku, pembagiannya sangat fleksibel dan semua serba spontan. Jika Abi sedang lelah, mi akan bersama anak-anak dan jika mi sedang kerepotan mengerjakan pekerjaan rumah atau mengharuskan mi keluar rumah, Abi bersedia untuk bermain bersama anak-anak. Alhamdulillah, perasaan mi saat ini sudah nyaman. Nyaman karena Abi tidak perlu mencari di internet, bagaimana cara memandikan anak, bagaimana cara menyuapi anak, atau bagaimana mencari kedekatan bersama anak-anak. Semuanya alami, seperti seorang ibu yang memiliki bonding dengan anak-anaknya. 
 

Happy Date with Leggendaddy at Happy Beach


Faiz memang masih memiliki sikap manja dan permintaannya harus dipenuhi. Faiz sudah sangat tidak sabar untuk bermain di Happy Beach bersama mi dan Abi. Faiz enggak mau hanya bersama mi atau bersama Abi. Meskipun Faiz sudah pernah bermain di Happy Beach, namun kali ini berbeda. Happy Beach kali ini berada di dalam mall. Lihat yuk keseruan keluarga bahagia kami.


Mengambil Gambar Sebelum Acara di Mulai


Sewaktu Abi masih mencari tempat parkir, kami berjalan-jalan dan menuju tempat acara. Woooow, sungguh luar biasa, Happy Beach berada di dalam mall. Seru sekali pasti bermainnya, Faiz sudah tidak sabar untuk bermain, apalagi Fira yang sedang mulai berjalan. 


Lihat tuh Happy Tummy Happy Kids, Fira juga suka sekali membuka baju untuk memamerkan perutnya. Mi kasih pengertian meskipun Fira belum memahami, bahwa membuka perut di kamar saja ya. heheee. Kalau di kamar juga jangan sering-sering, nanti perutnya masuk angin. Pencernaannya nanti terganggu. Nah, untuk menyehatkan pencernaannya Abi dan mi memberikan asupan nutrisi yang baik, termasuk perlindungan untuk menjaga imunitas. Kenapa? karena berperan penting dalam tumbuh kembang optimal anak.

Nah kan ya, jangan sering-sering dong mi, Fira membuka perutnya. Masuk angin juga enggak nyaman, lho buat bayi Fira. Tummy-nya Fira sehat, Fira bisa bermain bersama Abi dan mi, Happy Familly, dech.

Memberi makan domba, kelinci, kura-kura dan melihat hewan laut


Sebelum masuk untuk memberi makan hewan, petugas meminta Faiz untuk mencuci tangan. Ya wes, kami ikutin, untungnya toiletnya dekat sekali dengan tempat acara. Nah, ini juga yang mi sampaikan kepada Faiz. Sebelum bermain di Happy Beach, mainlah yang lain terlebih dahulu, Mengapa? agar pakaian dan badan Faiz enggak kotor. Alhamdulillah Faiz menurut, lho.

Memberi makan domba dan kelinci dengan wortel. Faiz sempat bertanya, kok domba makannya wortel? bukan rumput? mi menjawab, mungkin rumputnya mering semua, kan musim kemaraunya panjang sekali, kasihan yah.



Setelah memberi makan, selanjutnya Faiz menuju hewan laut. Ada ikan dan bintang laut yang ingin sekali Faiz pegang. Hm...antrinya bu, mana ramai sekali, jadi untuk mengambil gambarnya susah sekali *fotografer amatiran. Alhamdulillahnya petugaslah yang mengambilkan hewan laut tersebut, baru kemudian si anak yang memegang. Yang pelan ya...di elus, hati-hati jangan sampai hewannya gusar, nanti bingung loooh.



Happy Kite Decoration 


Setelah puas, mi mengajak Faiz memasuki Happy Beach. Sebelumnya kartu passnya di setempel juga, sama seperti sewaktu memberi makan hewan. Untuk alas kaki, panitia juga menyiapkan platik besar untuk menyimpan alas kaki kami. Iya kan, kalau di pasir, tidak nyaman menggunakan alas kaki. Di Happy Beach, terdapat panggung utama. Panggung untuk pertunjukan hiburan *yang kami enggak sempat menontonnya.

Faiz menghias layangan menggunakan hewan laut yang sudah digunting. menempelkannya mengunakan lem. Ada tersedia juga pensil warna, jika ingin menambahkan gambar-gambar lainnya, gambar dech. Eh, mi melihat lho, untuk anak perempuan, panitia membantu mengikat rambut menggunakan karet warna-warni, seru sekali ya.



Mega Block, menyusun lego atau di tato


Selanjutnya Faiz bermain lego, legonya sama persis seperti yang ada di rumah ya. Faiz membuat apa? membuat mobil yang simple, karena matanya terus melihat ke arah pasir. Duh, namanya anak-anak ya, sukanya bermain jumpalitan di pasir.

Mi juga menawarkan kepada Faiz, apakah ingin di tato? katanya enggak suka, oke dech. padahal kan asyik ya, tato yang sudah dijamin bersih cairannya, tatonya juga bakalan cepat hilang.  



Tidak lama Faiz berada di mega block, karena Abi dan Fira datang setelah makan siang. Selanjutnya, kami sudah berkumpul bersama.

Happy Snap


Ada apa di Happy Snap? Foto bersama mulai...ada petugasnya yang mengambil foto, dengan property yang sering ada di beach. Hasilnya bisa langsung diambil, prosesnya diprint dengan mengganti background beach juga. Senangnya, bahagianya...


Bermain pasir, menyewa mainan, happy touching for happy familly


Selesaaaaai, saatnya Faiz boleh main pasir. Bukan Faiz saja, Abi dan Fira juga sudah enggak sabar bermain pasir. Mi sebagai pengawasnya saja ya. Mi harus menjaga barang bawaan dan mengawasi Fira untuk tidak memasukkan pasir ke dalam mulutnya.

Sebelumnya, mi menyewa mainan pantai. Sistemnya memberikan uang deposit sebesar 100.000. Setelah bermain, mainan dikembalikan dan uang depositnya dikembalikan, hm...asyik ya. 

Ini adalah pengalaman ke dua untuk Faiz dan pertama untuk Fira bermain pasir. Memang sich, Faiz sudah sering ke pantai betulan, ketika pulang kampung #jalanyuknak pasti ke pantai. Bedanya di sini, Faiz asyik saja berjumpalitan, membangun istana pasir bersama dengan Abi.

Seringnya istana yang dibangun roboh lagi, roboh lagi. Lalu tindakan apa yang diambil? Abi dan Faiz meminta petugas untuk memberikan air agar pasirnya sedikit lebih padat dan basah. Selanjutnya..tralaaaa ada neng Fira yang merobohkan atau malah mengambil pasirnya.



Di sini sosok ayah sangat dibutuhkan bagi anak-anak. Ayahlah yang dengan keterampilannya mampu memberikan ikatan emosional paling kuat. Anak melihat caranya si ayah untuk membangun sebuah istana pasir, sedangkan anak-anak menunggunya dengan sabar dan kadang kala ada yang merobohkannya. Semoga proses kami menuju keluarga bahagia, bersama seorang leggendaddy yang kuat selamanya akan tetap saling mendukung.



Faiz dan Fira terlihat bahagia sekali, bermain bersama Abi yang telah meluangkan waktunya untuk bermain bersama di Happy Beach. Ummi yang melihat kebahagiaan anak dan ayah tersebut juga merasa nyaman, merasa ada seseorang yang menjadi penguat ketika mi sebagai manusia, kadang butuh me time. Me timenya adalah melihat gambar yang terekam ini. 

Membawa bahagia, pulang dengan senang


Inginnya berlama-lama di Happy Beach, namun kebersamaan kami akan terus berlanjut. Sebelum keluar tentunya, mi mengembalikan mainan dan mengambil uang deposit. Lalu petugas membersihkan pasir yang terbawa di pakaian kami, membersihkannya menggunakan alat semprot dan tissue basah.


How your day, Faiz? Senang sekali bisa bermain bersama Abi dan Fira. Faiz dan Abi lalu membuat sebuah jadwal bersama, yaitu teratur berenang bersama setiap minggu. Abi menjadi guru, dokter yang hebat buat Faiz.

Mi juga senang..tidak ada rengekan ketika bermain, tidak ada sesenggukan ketika bermain yang ada bahagia dan senang bersama leggendaddy. Abi, teruslah menjadi seorang ayah yang dibanggakan oleh anak-anakmu ya. Bersamamu ada mi yang terus memberikan support untukmu, support ketika Abi bekerja mencari nafkah dan support ketika Abi bersama anak-anak. Mi dan Abi memiliki peran yang sama, mengasuh anak-anak, tidak juga ketika di rumah atau ketika bermain, namun dalam hal pendidikan, itu tugas mi dan Abi bersama-sama. Love You.

37 comments:

  1. Seru banget Mbak jalan-jalannya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nich, jalan di pantai tengah mall

      Delete
  2. Waaah seru banget acaranya yaa. kmrn baca reportasenya mak Nurul di SBY juga kayaknya serruuu.
    keren lagi temanya yaa..mendekatkan anak2 dg daddy-nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, apalagi jam bekerja ayah ayah sekarng semakin padat y

      Delete
  3. seru ya, pantainya adem, pake AC hihiii

    ReplyDelete
  4. wiih Fira udah keliatan besar yaa...hehehe met hapi in the beach

    ReplyDelete
  5. Biasanya klo ke pantai sy jg jd penjaga tas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah kan...emak-emak mengalah gak main air dan pasir.

      Delete
  6. seru banget emang kalo bisa bersama dengan anak anak dan keluarga. apalagi adalam acara seperti ini

    ReplyDelete
  7. artikelnya panjaaaaaaang :)
    tapi bener2 menggugah saya sebagai calon ayah yang baik
    hi hi hi

    "Abi tidak sewot ketika Fira mengebrak gebrak laptopnya. Abi akan memberikan pengertian kepada Fira, laptop akan rusak jika seperti itu. Abi mengajari jemari Fira untuk melakukan gerakan halus pada keyboard, Yaaah..namanya baby, gebraaak teruss."

    merinding baca yang ini, semoga nanti saya bisa sabar seperti suami mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaamiin, semoga kita semua diberikan kesabaran dalam mendidik anak y

      Delete
  8. Mengoptimalkan Fatherhood mmg penting banget ya Mbak.
    Acaranya keren banget, semoga di Yogya dapat giliran juga . Aamiin

    ReplyDelete
  9. Wah seru ya acaranya, pasti Fira dan Faiz betah di situ. Ada pasirnya segala, bisa mainan pasir jadi berasa di pantai :)

    ReplyDelete
  10. Iya Mbak Lianny, Fira mainin pasir, sesuatu yang baru dan aneh buat dia. Faiz suka jumpalitan saja

    ReplyDelete
  11. Wah, contoh ayah yang baik, ya. Aku pun dekat sekali dengan Bapak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Mbak Indi, iya dari film mu aku lihat betapa ayahmu support terbesar ya

      Delete
  12. acaranya seru juga buat anak-anak dan ayah ibu juga
    pantainya indoor ya, enak banget itu enggak kepanasan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Solusi terbaik kalau jauh dari pantai, hehee iya ada AC malahan

      Delete
  13. seruuu ya main pasir di dalam mal

    ReplyDelete
  14. tulisanmu ini memang sangat kompliiit plit ya mbak Astin :) salut banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Mbak Tanty. tulisan jalan-jalan ngehe

      Delete
  15. Selamat Astin tulisannya juara.

    ReplyDelete
  16. Waahh bahagianya ya anak-anak kalo dibesarkan ayah yang peduli :)

    ReplyDelete
  17. Seru mBa. Acara bareng keluarga selalu penuh keceriaan. Ada banyak cerita. semoga mba astin skeluarga happy selalu. Oya soal fatherhood memang belum smua laki2 bisa menerima apalagi sejak dulu masyarakat kita terbiasa dgn cara pandang urusan anak2 domain ibu. Semoga semakin banyak yg mengerti ya.

    ReplyDelete
  18. saatnya para ayah juga mulai ikut terjun dengan pola asuh :)

    ReplyDelete
  19. This is my first comment, first appearance to your blog, you have shared a great info what newbie like me are eagerly looking for.
    Thanks.

    ReplyDelete